InternasionalBudayaDaerah

Pencak Silat Madiun Tampil di Festival Internasional Belanda, Usung Spirit Mataraman

19
×

Pencak Silat Madiun Tampil di Festival Internasional Belanda, Usung Spirit Mataraman

Sebarkan artikel ini
pencak-silat-madiun-festival-internasional
Delegasi pencak silat Madiun menampilkan seni budaya Mataraman di festival internasional Belanda. (Naw, NewsTujuh.com)

Dua sanggar pencak silat binaan PSHWTM Madiun tampil di festival internasional Belanda dengan tema The Spirit of Mataraman pada 8–12 Oktober 2026.

NEWSTUJUH.COM, MADIUN — Kebanggaan kembali ditorehkan oleh komunitas pencak silat dari Kabupaten Madiun. Dua sanggar binaan Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda (PSHWTM) Madiun, yaitu Sanggar Satria Krida Manggala dan Sanggar Seni Budaya Sugeng Santoso, sukses memukau penonton di 1st International Pencak Silat Culture & Heritage Festival yang berlangsung di Amersfoort, Belanda, pada 8–12 Oktober 2026. Undangan resmi dari Nederlandse Pencak Silat Federatie (NPSF) menjadikan kehadiran mereka satu-satunya wakil Jawa Timur di panggung internasional tersebut.

Mengusung tema “The Spirit of Mataraman”, delegasi Madiun menampilkan keunikan pencak silat khas daerah yang tegas namun tetap santun. Penampilan memukau memadukan gerak silat, tarian, dan musik tradisional, lengkap dengan peragaan berbagai senjata tradisional seperti keris, karambit, celurit, pecut, hingga trisula. Pertunjukan ini bukan sekadar unjuk kebolehan fisik, melainkan syiar nilai luhur bahwa pencak silat adalah sarana mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Festival yang dibuka secara resmi oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon ini dihadiri pula oleh Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, L. Amrih Jinangkung, serta Presiden NPSF, Olivier Blancquaert. Tiga delegasi Indonesia hadir dalam ajang ini: Panglipur dari Jawa Barat, Harimau Singgalang dari Sumatera Barat, dan PSHWTM Madiun. Kehadiran mereka memperkuat pesan bahwa pencak silat adalah warisan bangsa yang kaya akan keberagaman aliran.

Di samping pertunjukan, delegasi juga menyerahkan buku “Pusaka Pencak Silat Dalam Tiga Zaman” dan kain batik karya warga Winongo, Kota Madiun, kepada Menteri Kebudayaan sebagai wujud jejak kebudayaan yang tak lekang waktu. Fadli Zon sendiri mendorong agar pencak silat terus diperkuat diplomasi budayanya menuju aspirasi masuk sebagai cabang olahraga Olimpiade.

Ketua Satria Krida Manggala, Bayu Supriyanto, menyebut keberangkatan ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Dukungan dari Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesia Raya, MIND ID, dan Pemerintah Kabupaten Madiun menjadi penopang langkah bersejarah ini. Langkah ini membuktikan bahwa sebutan Madiun sebagai “Kampung Pesilat” bukan sekadar slogan, melainkan identitas yang hidup dan kini mulai dikenal dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *