Cuaca panas ekstrem di sebagian wilayah Jatim mencapai 37–38 derajat Celsius. Pakar UNAIR Suko Widodo mengingatkan risiko gangguan emosi dan konflik sosial.
NEWSTUJUH.COM, SURABAYA – Cuaca panas dengan suhu mencapai 37–38 derajat Celsius di sebagian wilayah Jawa Timur tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga berpotensi memengaruhi konsentrasi, kestabilan emosi, dan komunikasi masyarakat.
Pakar Komunikasi Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Suko Widodo, Drs., M.Si., mengingatkan bahwa kondisi tubuh yang tidak nyaman akibat suhu tinggi dapat membuat seseorang lebih mudah tersinggung. Situasi tersebut berisiko memicu kesalahpahaman hingga konflik sosial apabila tidak diimbangi dengan pengendalian emosi.
Menurut Suko, kelelahan fisik dan dehidrasi dapat memengaruhi cara seseorang merespons situasi maupun berinteraksi dengan orang lain. Akibatnya, persoalan sederhana yang seharusnya bisa diselesaikan melalui komunikasi yang baik berpotensi berkembang menjadi pertengkaran.
“Ketidaknyamanan tubuh dapat memengaruhi kondisi emosional, sementara emosi akan menentukan pilihan kata, nada bicara, serta cara kita merespons orang lain. Akibatnya, kesalahpahaman kecil di ruang publik bisa dengan mudah berkembang menjadi pertengkaran,” ujar Suko, Jumat (23/10/2026)
Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur tersebut menilai ruang publik dengan aktivitas tinggi menjadi salah satu lingkungan yang rentan memicu ketegangan. Kondisi ini dapat terjadi di jalan raya, terutama ketika cuaca panas disertai kemacetan, kebisingan kendaraan, dan paparan panas dari permukaan aspal.
Dalam keadaan tersebut, tingkat kesabaran pengguna jalan dapat menurun sehingga meningkatkan risiko munculnya respons agresif saat menghadapi gangguan atau perbedaan kepentingan.
Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam laporan tersebut, tingginya suhu di sejumlah wilayah Jawa Timur dipengaruhi oleh minimnya tutupan awan dan posisi semu Matahari. Kondisi ini menyebabkan paparan sinar Matahari terasa lebih kuat di permukaan bumi.
Untuk mengantisipasi dampaknya, Suko mengimbau masyarakat menjaga kondisi fisik dengan mencukupi kebutuhan cairan, beristirahat ketika tubuh mulai lelah, serta menghindari respons emosional yang berlebihan.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga komunikasi yang sehat di lingkungan keluarga, kampus, tempat kerja, maupun ruang publik. Sikap saling memahami dan kemampuan mengendalikan diri diperlukan agar ketidaknyamanan akibat cuaca panas tidak berkembang menjadi konflik interpersonal.
“Mari kita tingkatkan rasa sabar dan saling pengertian. Di tengah situasi yang melelahkan akibat cuaca ekstrem, tidak semua perbedaan pendapat atau kesalahan kecil harus direspons dengan kemarahan,” kata Suko.
Masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap dampak cuaca panas sekaligus menjaga sikap dalam berinteraksi. Dengan komunikasi yang baik dan pengendalian emosi, potensi perselisihan di tengah aktivitas sehari-hari dapat diminimalkan.













