Oprit Jembatan Banger Trenggalek Rusak Parah, Kualitas Kontraktor Disorot
- account_circle Bayu Krisna
- calendar_month Sel, 16 Des 2025
- comment 0 komentar

Kondisi oprit Jembatan Banger Trenggalek yang rusak parah meski baru selesai dibangun.(Foto : Bayu Krisna, NewsTujuh)
Oprit Jembatan Banger Trenggalek rusak parah meski belum lama rampung. PUPR soroti kualitas kontraktor, perbaikan jadi tanggung jawab penyedia jasa.
TRENGGALEK – Proyek pembangunan Jembatan Banger di Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek, kembali menuai sorotan publik. Baru beberapa waktu selesai dikerjakan dan diserahterimakan, oprit jembatan mengalami kerusakan cukup parah hingga memaksa penutupan total akses lalu lintas.
Kerusakan ini memunculkan pertanyaan serius terkait kualitas pekerjaan kontraktor pelaksana, mengingat jembatan merupakan infrastruktur strategis yang seharusnya memiliki daya tahan jangka panjang, bukan justru rusak dalam waktu singkat.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Trenggalek, Anjang Purwoko, mengonfirmasi bahwa kerusakan terjadi saat proyek masih berada dalam masa pemeliharaan.
“Secara kontrak pekerjaan sudah selesai dan diserahterimakan. Namun karena masih masa pemeliharaan dan terjadi kerusakan, kami perintahkan penyedia jasa untuk segera memperbaiki,” ujar Anjang, Senin (15/12/2025).
Ia menegaskan, seluruh biaya perbaikan menjadi tanggung jawab kontraktor, tanpa membebani anggaran daerah.
“Perbaikan ini tidak menggunakan APBD Kabupaten Trenggalek. Sepenuhnya menjadi kewajiban penyedia,” tegasnya.
Meski PUPR memastikan struktur utama jembatan dalam kondisi aman, rusaknya oprit dinilai sebagai indikator lemahnya kualitas perencanaan dan pelaksanaan teknis.
“Yang rusak memang opritnya, bukan struktur jembatan. Tapi oprit itu langsung menanggung beban lalu lintas, termasuk kendaraan bertonase berat,” jelas Anjang.
Fakta ini memicu pertanyaan publik: apakah spesifikasi teknis oprit telah disesuaikan dengan kondisi lalu lintas di lapangan, atau justru ada pengabaian aspek mutu demi mengejar target penyelesaian proyek.
PUPR menyebut kondisi cuaca saat pelaksanaan pekerjaan menjadi salah satu faktor penyebab kerusakan.
“Waktu pelaksanaan hujan deras, sehingga pemadatan kemungkinan kurang maksimal. Di sisi lain, pekerjaan dituntut selesai sesuai kontrak,” ungkap Anjang.
Namun, alasan cuaca hujan dinilai tidak bisa sepenuhnya membenarkan kegagalan mutu konstruksi, terutama untuk proyek infrastruktur vital yang bersentuhan langsung dengan keselamatan publik.
PUPR Trenggalek telah memanggil pihak kontraktor untuk melakukan evaluasi menyeluruh dan memastikan tanggung jawab perbaikan dijalankan.
“Penyedia sudah kami undang dan menyatakan siap bertanggung jawab serta melakukan perbaikan,” kata Anjang.
Saat ini, akses Jembatan Banger masih ditutup total hingga proses perbaikan oprit selesai. PUPR menargetkan perbaikan rampung dalam waktu dekat.
“Kami upayakan selesai sebelum akhir tahun atau sekitar satu minggu ke depan. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan masyarakat,” pungkasnya.
Rusaknya oprit Jembatan Banger dalam waktu singkat menjadi preseden buruk bagi kualitas proyek infrastruktur daerah. Publik berhak mempertanyakan sejauh mana pengawasan mutu dilakukan sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan, serta apakah proyek benar-benar dikerjakan sesuai spesifikasi teknis yang ditetapkan.
- Penulis: Bayu Krisna
- Editor: Nur Ulfa


Saat ini belum ada komentar