NEWSTUJUH.COM, SOLO – Di tengah kesibukan para relawan melayani jemaah dalam rangkaian Haul Solo 2026, sebuah pesan sederhana hadir melalui kaos yang mereka kenakan. Kalimat bernuansa sufistik tentang kerinduan kepada sang kekasih menjadi identitas sekaligus pengingat bagi mereka yang mengenakannya.
“Katakan kepada para perindu, sungguh perjumpaan dengan kekasih itu adalah obat hatiku.”
Kalimat tersebut menjadi jargon yang dibawa tim relawan Majelis Ar-Rohimin. H. Abdul Rohim menjelaskan, pesan itu ditujukan kepada para pencinta dzuriyah Rasulullah sekaligus mereka yang memiliki kecintaan kepada para ulama.
Bagi H. Abdul Rohim, tulisan tersebut memiliki dimensi yang jauh melampaui fungsi sebuah slogan. Ada pesan batin yang hendak disampaikan kepada siapa saja yang membacanya, terutama mereka yang memahami kecintaan kepada Rasulullah Muhammad SAW.
Syair tersebut menggambarkan kerinduan seorang pencinta kepada sosok yang dicintainya. Dalam pemaknaan terhadap kecintaan kepada Rasulullah, kerinduan itu menjadi ekspresi batin seorang umat yang mendambakan kedekatan dengan Baginda Nabi, sang kekasih Allah.
Itulah sebabnya syair tersebut dipilih untuk menghiasi kaos para relawan. Tulisan itu diharapkan tidak berhenti sebagai elemen visual, tetapi menjadi pengingat ketika para relawan menjalankan aktivitas pelayanan selama Haul Solo 2026.
H. Abdul Rohim mengaku memiliki pengalaman batin tersendiri setiap kali membaca bait tersebut. Ada rasa haru dan kerinduan yang menurutnya sulit diterjemahkan secara utuh melalui kata-kata.
Setiap kali syair itu dibaca, ia merasakan adanya getaran yang mengingatkan kembali pada kecintaan kepada Rasulullah. Perasaan tersebut kemudian menjadi alasan baginya untuk terus mengajak jemaah memperdalam makna selawat.
Menurut H. Abdul Rohim, selawat tidak semestinya hanya dilihat sebagai lantunan yang keluar dari lisan. Ada penghayatan yang perlu menyertai setiap lafaz, sehingga selawat benar-benar menjadi ungkapan cinta kepada Rasulullah.
Karena itu, ia mengingatkan jemaah Majelis Ar-Rohimin untuk mempersiapkan hati ketika melantunkan selawat.

Ia berharap setiap bacaan tidak dilakukan sekadar sebagai rutinitas, melainkan disertai kerinduan dan harapan untuk dapat berjumpa dengan Rasulullah.
“Lantunkan selawat dengan hati. Mantapkan hati dan tanamkan harapan kelak dapat berjumpa dengan Rasulullah,” pesan H. Abdul Rohim.
Pesan tersebut juga menjadi bagian dari harapannya terhadap kecintaan jemaah kepada selawat. Ia ingin kecintaan itu tidak hanya terasa ketika jemaah berkumpul dalam majelis atau mengikuti momentum Haul Solo 2026, tetapi terus hidup dalam keseharian.
Bagi H. Abdul Rohim, selawat memiliki tempat khusus dalam perjalanan spiritual seseorang yang mencintai Rasulullah.
Karena itu, ia berharap semakin banyak jemaah yang menjadikan selawat sebagai bagian dari kebiasaan, sekaligus sarana untuk memelihara rasa cinta dan rindu kepada Nabi Muhammad SAW.
Semangat tersebut kemudian bertemu dengan suasana Haul Solo 2026 yang mempertemukan para jemaah dalam ikatan kecintaan kepada Rasulullah, para ulama, dan dzuriyah beliau.
Kehadiran para relawan Majelis Ar-Rohimin menjadi bagian dari dinamika pelayanan selama kegiatan berlangsung.
Di tengah tugas pelayanan itu, kaos yang mereka kenakan menyampaikan pesan yang cukup kuat.
Ada sebuah pengingat bahwa aktivitas seorang relawan tidak semata-mata berkaitan dengan pekerjaan teknis, tetapi juga dapat menjadi bentuk pengabdian yang dilandasi kecintaan.
Syair tentang perjumpaan dengan sang kekasih pun menjadi semacam pesan berjalan.
Setiap kali terbaca, ia mengajak orang untuk kembali mengingat Rasulullah, merawat kerinduan, dan menghadirkan selawat bukan hanya melalui suara, tetapi juga melalui hati.













