BeritaBudaya

Tujuh Perguruan Silat Kartasura Perkuat Kerukunan

20
×

Tujuh Perguruan Silat Kartasura Perkuat Kerukunan

Sebarkan artikel ini
Perguruan silat Kartasura
Tujuh perguruan pencak silat bersatu dalam semangat persaudaraan pada sarasehan Silat Lintas Jaman di Ambal Warsa ke-346 Kartasura, Sukoharjo, dalam rangkaian FESTRA 2026 (Foto: Kontributor Ign Widyo, Newstujuh.com)

Tujuh perguruan pencak silat berkumpul di Kartasura dalam Silat Lintas Jaman pada FESTRA 2026.

NEWSTUJUH.COM, SUKOHARJO – Tujuh perguruan pencak silat berkumpul dalam sarasehan bertajuk Silat Lintas Jaman di kawasan Benteng Kartasura, Jumat malam (9/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan Ambal Warsa ke-346 Kartasura sekaligus ruang dialog untuk memperkuat persaudaraan dan melestarikan budaya pencak silat.

Sarasehan yang digelar di panggung utama Pagelaran Budaya Ambal Warsa tersebut masuk dalam rangkaian Festival Seni Budaya dan Ekonomi Kreatif Kartasura (FESTRA) 2026. Para peserta membahas sejarah perguruan, filosofi pencak silat, pendidikan karakter, serta tantangan menjaga tradisi di tengah perkembangan zaman.

Pertemuan lintas perguruan ini menegaskan bahwa pencak silat bukan sekadar seni bela diri. Di dalamnya terdapat nilai disiplin, pengendalian diri, penghormatan terhadap sesama, dan semangat persaudaraan yang perlu diwariskan kepada generasi muda.

Tujuh perguruan yang mengikuti kegiatan tersebut adalah Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Ranting Kartasura, Perisai Diri Ranting Kartasura, Tapak Suci Putera Muhammadiyah Cabang Kartasura, PSH Pilangbango Damar Kurung Sumunar Kartasura, IKSPI Kera Sakti Ranting Kartasura, Pagar Nusa UIN Raden Mas Said Surakarta, serta Persaudaraan Rumpun Setia Hati (PRSH).

Sarasehan juga menghadirkan perwakilan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Sukoharjo, Punjung, dan penanggap H. Bagus Sigit Setiawan, M.M. Diskusi dipandu oleh Arif dan Aswin.

Rangkaian acara diawali kirab bendera Merah Putih, penyematan pataka yang melambangkan tujuh perguruan, serta penampilan gerakan pembuka dari masing-masing peserta.

Dalam sesi dialog, para perwakilan membicarakan perjalanan organisasi, makna lambang perguruan, nilai-nilai yang ditanamkan kepada anggota, hingga strategi mempertahankan eksistensi pencak silat sebagai warisan budaya.

Perkembangan teknologi digital dinilai membuka peluang lebih luas untuk memperkenalkan pencak silat kepada masyarakat. Namun, pemanfaatan teknologi perlu diimbangi pembinaan langsung agar generasi muda memahami nilai dan tanggung jawab yang melekat pada seni bela diri tersebut.

Suasana akrab terlihat dalam interaksi antara perwakilan IKSPI Kera Sakti Kartasura dan PSH Pilangbango Damar Kurung Sumunar. Komunikasi yang berlangsung santai dan diselingi humor memperlihatkan bahwa perbedaan identitas perguruan tidak menghalangi hubungan baik.

Ketua IKSPI Kartasura, Tulus Joko W., menyampaikan apresiasi terhadap sikap yang ditunjukkan oleh perwakilan PSH Pilangbango. Ia berharap hubungan kedua perguruan dapat terus terjaga dan memberikan dampak positif bagi keamanan serta ketertiban masyarakat Kartasura.

“Kami terkesan dengan sikap yang ditunjukkan oleh PSH Pilangbango, santun dan unik. Saudara saya yang satu ini juga penuh humor. Semoga kami IKSPI dan PSH Pilangbango terus kompak bersatu untuk keamanan dan ketertiban Kartasura,” ujar Tulus.

Sementara itu, Ketua Cabang PSH Pilangbango Sukoharjo, Bobi Jatmiko, menekankan pentingnya menghormati perbedaan dan menghindari sikap merasa paling unggul.

“IKSPI, saudara saya yang satu ini, sangat energik dan penuh humor, namun sangat terbuka dalam menyikapi perbedaan. Apalagi Ketua IKSPI Kartasura, meskipun konyol, tapi baik hati,” ungkap Bobi.

Kedua pernyataan tersebut menggambarkan kedekatan personal yang dapat menjadi modal untuk membangun komunikasi dan kerja sama antarperguruan. Kerukunan perlu diwujudkan secara konsisten melalui sikap saling menghormati, komunikasi yang terbuka, serta pembinaan anggota.

Selain diskusi, kegiatan tersebut dimeriahkan atraksi yang menampilkan teknik dan karakter gerakan dari masing-masing perguruan. Penampilan ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenal keberagaman pencak silat, baik sebagai seni pertunjukan maupun sebagai tradisi yang mengandung nilai pendidikan.

Pelestarian pencak silat di tengah perubahan zaman membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk perguruan, keluarga, masyarakat, dan generasi muda. Kemampuan bela diri perlu berjalan seiring dengan kedisiplinan, pengendalian emosi, penghormatan kepada pelatih, serta kepedulian terhadap lingkungan.

Melalui pertemuan lintas perguruan, perbedaan aliran dan identitas organisasi dapat menjadi kekayaan budaya yang memperluas ruang kolaborasi, bukan penghalang untuk membangun persaudaraan.

Peringatan Ambal Warsa ke-346 Kartasura melalui FESTRA 2026 menjadi ruang pertemuan seni, budaya, dan masyarakat. Agenda Silat Lintas Jaman turut memperkaya rangkaian kegiatan dengan mengangkat sejarah, filosofi, dan nilai persaudaraan dalam pencak silat.

Dari Kartasura, pesan yang mengemuka adalah bahwa pelestarian budaya tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan jurus dan tradisi latihan, tetapi juga memastikan nilai-nilai luhur tetap hidup dalam perilaku generasi penerus. Kerukunan dan penghormatan terhadap perbedaan menjadi bagian penting dalam menjaga pencak silat tetap relevan di tengah masyarakat modern.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *