Pompa air irigasi di Baki Pandeyan, Sukoharjo, membantu pengairan sawah 10 hektare dan membuka peluang peningkatan musim tanam
NEWSTUJUH.COM, SUKOHARJO – Bantuan pompa air irigasi menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas pertanian di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Fasilitas ini membantu petani memenuhi kebutuhan air, terutama saat musim kemarau, sekaligus membuka peluang pemanfaatan lahan sawah secara lebih optimal.
Di Desa Baki Pandeyan, sarana pengairan tersebut mendukung kebutuhan air untuk lahan pertanian seluas sekitar 10 hektare. Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Baki Pandeyan, Sigit Setyo Utomo, menyebut keberadaan pompa air memberikan perubahan terhadap pola tanam petani setempat.
Sebelum tersedia dukungan pengairan tersebut, petani umumnya hanya dapat melakukan dua kali musim tanam dalam setahun. Kini, dengan pasokan air yang lebih memadai, peluang untuk meningkatkan frekuensi tanam menjadi tiga kali setahun semakin terbuka.
“Dulu di area ini hanya bisa dua musim tanam dalam setahun. Dengan adanya mesin pompa ini, sekarang bisa tiga kali tanam. Bahkan kalau memungkinkan, bisa mencapai empat kali tanam,” ungkap Sigit, Minggu (11/10/2026).
Menurutnya, ketersediaan air menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan kegiatan pertanian. Pompa air diharapkan membantu petani mengantisipasi keterbatasan pengairan ketika curah hujan menurun, sehingga jadwal tanam dapat disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman.
Meski demikian, peningkatan intensitas tanam tetap perlu memperhatikan ketersediaan air, kondisi tanah, serta pola budidaya yang sesuai. Pengelolaan irigasi secara tepat diperlukan agar produktivitas lahan dapat meningkat secara berkelanjutan.
Bupati Sukoharjo, Eko Sapto Purnomo, menyampaikan bahwa pemerintah daerah terus mendorong penguatan sektor pertanian melalui penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), pembangunan irigasi perpipaan, serta sumur dalam untuk mendukung kebutuhan air di lahan pertanian.
Menurut Eko, program bantuan pertanian perlu disesuaikan dengan persoalan yang dihadapi petani. Karena itu, komunikasi dan dialog langsung dengan kelompok tani menjadi bagian penting dalam merumuskan langkah penyelesaian.
Salah satu wadah yang digunakan adalah sarasehan pertanian. Melalui forum tersebut, petani dapat menyampaikan kendala, bertukar pengalaman, dan mengusulkan solusi untuk meningkatkan hasil usaha tani.
“Kami mengadakan sarasehan pertanian, di mana petani bisa menyampaikan kendala, pengalaman, hingga harapan mereka. Tujuannya, agar masalah dan solusi bisa bertemu langsung,” jelas Eko.
Ia menambahkan, pengembangan sektor pertanian tidak hanya bergantung pada ketersediaan air. Dukungan jaringan listrik, pengelolaan sumber daya air, penanganan pascapanen, dan akses pemasaran hasil pertanian juga perlu diperhatikan secara terpadu.
Selain pertanian di lahan sawah, pemanfaatan pekarangan melalui konsep urban farming dinilai berpotensi menjadi alternatif untuk mengembangkan kegiatan pertanian di wilayah Sukoharjo.
Eko menegaskan, sarasehan pertanian diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara petani dan pemerintah untuk mencari jalan keluar atas berbagai persoalan di lapangan.
“Sarasehan ini menjadi jembatan antara masalah dan solusi. Solusi tidak selalu datang dari luar, terkadang justru ada di antara kita sendiri,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Sukoharjo berharap dukungan pompa air dan sumur dalam dapat memperluas kesempatan petani meningkatkan frekuensi tanam. Lahan yang sebelumnya hanya ditanami dua kali dalam setahun diharapkan berpeluang mencapai tiga kali tanam, dengan mempertimbangkan ketersediaan air dan kondisi pertanian setempat.
Eko juga menekankan pentingnya kerja sama antara kelompok tani, penyuluh pertanian lapangan (PPL), dinas terkait, dan instansi pemerintah lainnya. Koordinasi lintas sektor diperlukan agar bantuan dan program pembangunan pertanian dapat memberikan manfaat yang lebih optimal.
“Kita memang bukan Superman, tetapi persoalan pertanian ini menyangkut banyak bidang dan pemangku kepentingan. Maka dibutuhkan sinergi dari kelompok tani, PPL, dinas terkait, hingga pemerintahan vertikal. Solid, Sinergi, Sukses itulah semangat kita,” tegasnya.
Dengan dukungan infrastruktur pengairan, pendampingan petani, serta pengelolaan lahan yang tepat, sektor pertanian di Kabupaten Sukoharjo diharapkan semakin produktif. Upaya tersebut juga diharapkan membuka peluang peningkatan hasil panen dan pendapatan petani sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat pedesaan.













