Balap Getek Meriahkan Festival Sungai Lika Liku 2025 di Trenggalek, Ribuan Warga Padati Dam Widoro
- account_circle Bayu Krisna
- calendar_month Minggu, 23 Nov 2025
- comment 0 komentar

Lomba balap getek di Festival Sungai Lika Liku 2025 Trenggalek di Dam Widoro. (Foto : Bayu Krisna, NewsTujuh)
Festival Sungai Lika Liku 2025 merupakan salah satu agenda yang paling menarik perhatian adalah lomba balap getek, sebuah perlombaan rakit bambu tradisional yang sukses menghadirkan suasana penuh tawa, ketegangan, dan semangat kebersamaan.
NEWSTUJUH.COM, TRENGGALEK – Dam Widoro di Desa Widoro, Kecamatan Gandusari, berubah menjadi pusat keramaian saat Festival Sungai Lika Liku 2025 digelar pada Sabtu (22/11/2025). Salah satu agenda yang paling menarik perhatian adalah lomba balap getek, sebuah perlombaan rakit bambu tradisional yang sukses menghadirkan suasana penuh tawa, ketegangan, dan semangat kebersamaan.
Festival ini merupakan kolaborasi antara Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Trenggalek bersama komunitas JMW (Jamaah Mbocah Widoro) dalam rangka menjaga dan melestarikan ekosistem sungai melalui pendekatan budaya, tradisi, dan wisata masyarakat.
Lomba balap getek tahun ini diikuti oleh 16 regu, masing-masing terdiri dari dua orang pendayung yang harus mengendalikan rakit bambu rakitan mereka sejauh 200 meter menuju garis finis. Para peserta mengandalkan kekuatan fisik, koordinasi, serta keahlian menjaga keseimbangan.
Sorak sorai penonton pecah setiap kali salah satu getek oleng tersapu arus, tersangkut batu, atau berputar ke arah berlawanan. Kejadian-kejadian lucu inilah yang membuat perlombaan semakin meriah.
“Kelihatannya mudah, tapi sebenarnya perlu tenaga besar. Melawan arus dan angin itu yang berat. Kami latihan dua minggu sebelumnya, tapi tetap kewalahan,” kata salah satu peserta, Miftakhul Huda, sambil tertawa.
Huda menjelaskan, rakit yang digunakan merupakan hasil kerja bakti warga.
“Getek dirakit dari bambu, sementara pelampungnya memakai galon bekas. Semuanya dibuat swadaya. Kebersamaan seperti ini yang membuat festival terasa istimewa,” ujarnya.
Plt Kepala Disparbud Trenggalek, Edi Santoso, menyebut bahwa Festival Sungai Lika Liku tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga bentuk edukasi soal pentingnya sungai dalam kehidupan masyarakat masa lalu.
“Lomba balap getek ini mengingatkan kita pada sejarah nenek moyang yang memanfaatkan sungai sebagai jalur transportasi utama. Ini adalah penghormatan kepada tradisi sekaligus edukasi untuk generasi muda agar menghargai sungai,” jelasnya.
Selain balap getek, festival juga diramaikan dengan tradisi Metri Kali, penanaman pohon di sekitar bantaran sungai, dan tebar benih ikan sebagai simbol kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Menurut Edi, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai dan memanfaatkannya secara bijak.
Edi optimistis Festival Sungai Lika Liku dapat menjadi agenda tahunan sekaligus daya tarik wisata air baru di Trenggalek.
“Antusiasme masyarakat luar biasa. Ini baru pertama digelar, namun respons sangat positif. Ke depan akan kami evaluasi agar festival ini bisa dilaksanakan secara rutin dan menjadi ikon wisata Desa Widoro,” ujarnya.
Ribuan warga terlihat memadati area festival, mulai dari anak-anak hingga orang tua, menciptakan suasana penuh kegembiraan dan gotong royong.
Festival Sungai Lika Liku membuktikan bahwa kegiatan sederhana berbasis tradisi dan lingkungan dapat memiliki nilai wisata yang besar. Perpaduan antara hiburan, edukasi, dan aksi pelestarian alam menumbuhkan kembali kecintaan masyarakat terhadap sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan warga Desa Widoro.
- Penulis: Bayu Krisna
- Editor: Narulata

Saat ini belum ada komentar