Tiga akademisi UNDHA AUB Surakarta masuk pengurus DPP IKAL-Lemhannas RI periode 2026–2031 dan mendorong penguatan wawasan kebangsaan.
NEWSTUJUH.COM, SURAKARTA – Tiga putra Solo yang merupakan alumni Training of Trainers (ToT) Lemhannas RI Angkatan 39 sekaligus akademisi Universitas Dharma AUB Surakarta (UNDHA AUB) mendapat amanah dalam kepengurusan Dewan Pengurus Pusat Ikatan Keluarga Alumni Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (DPP IKAL-Lemhannas) masa bakti 2026–2031.
Ketiganya dilantik bersama jajaran pengurus lainnya di Gedung Dwiwarna Purwa, Lemhannas RI, Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Mereka adalah Ketua Yayasan UNDHA AUB Surakarta, Dr. Anggoro Panji Nugroho, M.M., yang dipercaya sebagai Dewan Penasihat; Dr. (Cand.) Drajat Jati Prakosa, S.E., M.M., sebagai Koordinator Wilayah Jawa; serta Indarto Ryan Saputro, S.E., M.M., yang mengemban amanah sebagai Wakil Sekretaris Pusat Sosialisasi dan Literasi Kebangsaan.
Saat ditemui di kampus UNDHA AUB Surakarta, Anggoro Panji Nugroho menyampaikan bahwa amanah tersebut merupakan bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara, terutama dalam menjaga serta mengawal konsensus dasar bangsa melalui penerapan Wawasan Nusantara, Ketahanan Nasional, dan Kewaspadaan Nasional.
Menurut Anggoro, alumni Lemhannas RI memiliki tanggung jawab moral untuk turut menjaga empat konsensus dasar bangsa, yakni Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika.
“Alumni Lemhannas setiap saat harus siap memberikan gagasan dan pemikiran strategis sebagai solusi atas berbagai persoalan ketahanan nasional, baik di tingkat daerah, nasional, maupun global,” ujarnya.
Ia menambahkan, alumni juga diharapkan mampu menyusun kajian dan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah maupun institusi tempat mereka berkarya secara komprehensif, integral, dan holistik.
Kemampuan menganalisis isu geopolitik, ekonomi, sosial, pertahanan dan keamanan, serta teknologi juga diperlukan untuk mengantisipasi berbagai potensi ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan.
Selain itu, alumni diharapkan berperan aktif menjaga kondusivitas wilayah, mencegah disintegrasi, radikalisme, dan polarisasi sosial, serta menyosialisasikan nilai-nilai kebangsaan dan strategi pembangunan nasional kepada masyarakat luas.
Anggoro menegaskan, penguatan jejaring antaralumni IKAL dan kemitraan lintas sektor menjadi bagian penting dalam mendukung upaya tersebut. Sinergi dengan TNI, Polri, aparatur sipil negara (ASN), akademisi, pengusaha, politisi, serta tokoh masyarakat diperlukan untuk mendorong pembangunan nasional yang terintegrasi dan kolaboratif.
Anggoro Dorong Penguatan Wawasan Kebangsaan di Dunia Pendidikan
Sebagai akademisi perguruan tinggi, Anggoro menilai penanaman nilai-nilai wawasan kebangsaan kepada generasi muda perlu diperkuat melalui jalur pendidikan.
Ia mendorong penguatan kurikulum atau materi wawasan kebangsaan secara berjenjang, mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga perguruan tinggi, dengan metode pembelajaran yang disesuaikan dengan perkembangan peserta didik.
Menurutnya, langkah tersebut penting untuk membangun kecintaan terhadap bangsa dan negara sekaligus memperkuat karakter serta jati diri generasi muda di tengah derasnya pengaruh budaya dan ideologi asing.
Generasi muda, lanjut Anggoro, merupakan tulang punggung masa depan bangsa. Karena itu, mereka perlu dibekali pemahaman tentang sejarah, budaya, kearifan lokal, dan nilai-nilai kebangsaan agar tumbuh menjadi generasi yang memiliki kepedulian terhadap masa depan Indonesia.
Ia menilai cita-cita mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan bangsa membutuhkan generasi penerus yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki karakter dan tanggung jawab kebangsaan.
Pengenalan nilai-nilai kearifan, sejarah, budaya, serta wawasan kebangsaan sejak dini diharapkan dapat memperkuat rasa cinta tanah air dan membangun kepribadian generasi muda.
Sementara itu, Dr. (Cand.) Drajat Jati Prakosa berharap penguatan peran alumni Lemhannas RI di daerah mendapat dukungan melalui keberadaan kantor perwakilan atau simpul koordinasi yang memadai.
Menurut Drajat, keberadaan perwakilan di daerah dapat mempercepat koordinasi dan sinergi sekaligus memperkuat pelaksanaan program ketahanan nasional secara lebih merata.
Hal ini dinilai penting mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan dengan wilayah yang luas serta memiliki keragaman karakteristik geografis, sosial, dan budaya.
Drajat menilai, keberadaan perwakilan daerah juga berpotensi mendukung pengumpulan data geopolitik, geoekonomi, dan geososial secara langsung dari lapangan. Data tersebut dapat menjadi bahan dalam menyusun rekomendasi kebijakan yang responsif terhadap kondisi dan kearifan lokal masing-masing daerah.
“Ketahanan nasional merupakan akumulasi dari ketahanan di tingkat daerah,” menjadi salah satu pokok pemikiran yang disampaikan Drajat mengenai pentingnya penguatan ketahanan wilayah.
Ia juga menekankan pentingnya membantu pemerintah daerah memetakan kondisi ketahanan wilayah serta mendorong keselarasan kebijakan pembangunan daerah, termasuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), dengan arah pembangunan strategis nasional dan prinsip Wawasan Nusantara.
Indarto Ryan Saputro Tekankan Pemerataan Literasi Kebangsaan
Senada dengan Drajat, Indarto Ryan Saputro menilai sosialisasi dan literasi kebangsaan memiliki peran penting dalam menjaga kesadaran berbangsa dan bernegara di tengah keterbukaan informasi serta dinamika geopolitik.
Sebagai Wakil Sekretaris Pusat Sosialisasi dan Literasi Kebangsaan DPP IKAL-Lemhannas RI, Indarto memandang keberadaan kantor atau simpul perwakilan di daerah dapat membantu memperluas jangkauan program literasi kebangsaan kepada masyarakat.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pemerataan akses pengetahuan mengenai Ketahanan Nasional, Wawasan Nusantara, dan geopolitik hingga ke pelosok, termasuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Menurutnya, hambatan geografis dan pembiayaan perlu menjadi perhatian agar kegiatan literasi kebangsaan dapat menjangkau berbagai elemen masyarakat secara lebih merata.
Dengan demikian, pemahaman mengenai ketahanan nasional dan geopolitik tidak hanya menjadi konsumsi kalangan tertentu di tingkat pusat, tetapi juga dapat diakses oleh tokoh masyarakat, akademisi, aktivis kepemudaan, dan masyarakat luas.
Indarto juga menekankan pentingnya pendekatan berbasis kearifan lokal dalam menyampaikan materi kebangsaan. Setiap daerah memiliki karakteristik budaya, potensi konflik, serta persoalan sosial-politik yang berbeda sehingga membutuhkan metode komunikasi yang sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.
Melalui pendekatan tersebut, nilai-nilai Pancasila, Wawasan Nusantara, dan Kewaspadaan Nasional diharapkan lebih mudah dipahami, diterima, dan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Keterlibatan tiga akademisi UNDHA AUB Surakarta dalam kepengurusan DPP IKAL-Lemhannas RI periode 2026–2031 diharapkan menjadi ruang pengabdian untuk memperkuat literasi kebangsaan, membangun sinergi lintas sektor, dan mendorong kontribusi daerah dalam menjaga ketahanan nasional.













