Ketum PBNU Gus Yahya mengajak warga NU membenahi akhlak dan kualitas keulamaan, bukan sibuk bersaing dengan Muhammadiyah atau lembaga lain.
NEWSTUJUH.COM, JAKARTA – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyampaikan pesan kepada warga Nahdlatul Ulama (NU) agar lebih mengutamakan pembenahan akhlak dan kualitas keulamaan daripada sibuk membandingkan diri dengan lembaga atau organisasi lain.
Pesan tersebut disampaikan Gus Yahya dalam sebuah kesempatan pertemuan bersama para kiai. Gus Yahya mengungkapkan kegelisahannya mengenai pola pikir sebagian pihak yang menjadikan perkembangan organisasi lain sebagai tolok ukur.
Ia kemudian mempertanyakan bagaimana NU harus bersikap ketika muncul pemikiran untuk bersaing, termasuk dalam hal kekuatan ekonomi dan kepemilikan aset.
“Bagaimana kita bisa saingi Muhammadiyah, bagaimana kita punya duit sendiri,” ujar Gus Yahya.
Saat menyampaikan kalimat itu, Gus Yahya tampak menunjukkan gestur emosional dengan memukul bagian dadanya sambil mempertanyakan kondisi internal NU.
Menurut dia, persoalan mendasar justru perlu diselesaikan terlebih dahulu. Ia menekankan bahwa kemajuan organisasi maupun besarnya kekayaan tidak akan memiliki arti apabila persoalan hati dan akhlak belum dibenahi.
“Kalau hati kita belum beres, semua akan percuma,” tegasnya.
Gus Yahya juga menyampaikan bahwa NU tidak perlu merasa terganggu apabila Muhammadiyah berkembang atau lembaga lain memiliki kekayaan yang besar.
“Kalau Muhammadiyah maju, biar. Kalau ada lembaga-lembaga lain punya kekayaan besar, biar,” ujarnya.
Baca juga : NU Miskin dan Butuh Duit, Gus Lilur Bandingkan dengan Muhammadiyah
Ia mengajak warga NU untuk kembali memikirkan hakikat keulamaan dan tanggung jawab dasar seorang ulama. Menurut Gus Yahya, perhatian terhadap aspek materi dan persaingan kelembagaan jangan sampai membuat tugas utama keulamaan justru terabaikan.
“Mari kita berpikir dulu, keulamaan kita seperti apa, supaya kita tidak mengejar apa yang menjadi tanggung jawab dasar dari keulamaan itu,” katanya.
Pernyataan tersebut menekankan pentingnya introspeksi di internal NU. Bagi Gus Yahya, ukuran kemajuan tidak semata-mata dilihat dari kekuatan ekonomi, aset, maupun kemampuan bersaing dengan organisasi lain, tetapi juga dari kualitas akhlak, tanggung jawab keulamaan, dan pengabdian kepada masyarakat.
pbnu,
Gus Yahya sendiri merupakan Ketua Umum PBNU periode 2021–2026. Dalam sejumlah pernyataan sebelumnya, ia juga menekankan penguatan organisasi serta kerja sama dengan berbagai pihak sebagai bagian dari pengembangan NU.














Respon (1)