PPP Surabaya menggelar Musancab ke-10 fokus dengan konsolidasi PAC dan penguatan organisasi menuju Pemilu 2029.
NEWSTUJUH.COM, SURABAYA – Ratusan kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menghadiri Musyawarah Anak Cabang (Musancab) ke-10 yang digelar di Gedung Posko PPP, Gang Sawo, Benowo, Kecamatan Pakal, Rabu malam (30/9/2026).
Kegiatan tersebut diikuti kader dari sembilan kecamatan, yakni Asemrowo, Benowo, Dukuh Pakis, Karang Pilang, Lakarsantri, Pakal, Sambikereb, Tandes, dan Wiyung. Musancab digelar sebagai bagian dari konsolidasi organisasi sekaligus pembentukan kepengurusan Pimpinan Anak Cabang (PAC) baru untuk menghadapi Pemilu 2029.
Sejumlah jajaran pimpinan dan tokoh PPP turut hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya Ketua DPW PPP Jawa Timur H. Arif Winarko, Ketua DPC PPP Kota Surabaya KH. Muhaimin, SH., MM., Sekretaris DPC PPP Kota Surabaya H. Moch. Unai Fauzi, SH., serta anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya H. Agus Mashuri.
Sejumlah tokoh masyarakat, tokoh agama dan simpatisan PPP juga tampak mengikuti kegiatan.
Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya H. Agus Mashuri mengatakan, pembentukan struktur organisasi di tingkat kecamatan menjadi bagian penting untuk memperkuat konsolidasi partai menjelang Pemilu 2029.
“Kita membentuk pengurus yang solid. Kita akan menyongsong Pemilu 2029 dengan sukses dan memperoleh tambahan kursi. Apa yang dicita-citakan partai bisa berhasil dan sukses,” ujarnya.
Menurut Agus, perjuangan politik tidak terlepas dari berbagai tantangan. Karena itu, soliditas internal dan dukungan terhadap kepemimpinan partai harus terus dijaga.
“Saya akan selalu siap mendukung di belakang Pak Ketua meskipun banyak rintangan. Karena hal itu bukan semata rintangan, tapi juga tantangan,” katanya.
Ia juga meminta Musancab tidak hanya dimaknai sebagai agenda organisasi. Forum tersebut, kata dia, harus menjadi ruang untuk memperkuat tali silaturahmi sekaligus mempererat hubungan kader dengan masyarakat.
Agus menekankan pentingnya kader PPP turun langsung ke tengah masyarakat. Kedekatan dengan akar rumput dinilai menjadi modal penting untuk memahami persoalan, kebutuhan, serta aspirasi masyarakat.
“Seluruh kader harus lebih dekat kepada masyarakat, terutama akar rumput, sehingga bisa mengetahui dan memahami apa yang diinginkan masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua DPC PPP Kota Surabaya KH. Muhaimin mengatakan, proses pembentukan PAC diharapkan berjalan lancar melalui musyawarah dan mufakat. Ia juga mengajak seluruh kader menjaga suasana guyub dalam proses konsolidasi organisasi.
Menurut Muhaimin, apabila seluruh struktur kepengurusan di tingkat kecamatan dan ranting dapat terbentuk secara lengkap, target penambahan kursi pada Pemilu 2029 bukan sesuatu yang mustahil.
“Ketika semuanya solid dalam satu tujuan, 31 PAC yang terbentuk di Kota Surabaya ini nantinya akan memiliki lebih dari 310 pengurus. Dengan kekuatan tersebut, target untuk membentuk satu fraksi dapat terpenuhi,” jelasnya.
Muhaimin juga mengingatkan kader agar tidak melupakan perjalanan politik PPP di Kota Surabaya. Pengalaman pada periode sebelumnya, termasuk ketika PPP sempat mengalami kevakuman, harus menjadi bahan evaluasi sekaligus pijakan untuk memperkuat partai.
Ia menyebut PPP kembali berkiprah di parlemen sejak 2009. Pada Pemilu 2014 dan 2019, PPP memperoleh dua kursi di DPRD Kota Surabaya. Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi tiga kursi pada Pemilu 2024.
“Capaian ini jangan membuat kita berpuas diri. Peningkatan ini harus terus ditingkatkan, tidak cukup hanya di Surabaya, tetapi harus lebih luas lagi sehingga target Pemilu 2029 bisa dicapai,” katanya.
Muhaimin optimistis melihat antusiasme kader yang mengikuti Musancab ke-10. Menurutnya, semangat tersebut menjadi salah satu modal untuk memperkuat mesin organisasi menghadapi kontestasi politik mendatang.
“Saya pastikan, insyaallah PPP mendapatkan tambahan kursi, khususnya Dapil V,” tegasnya.
Ia menambahkan, upaya memperoleh tambahan kursi di DPRD Kota Surabaya membutuhkan energi, semangat, dan persatuan seluruh kader. Konsolidasi tidak boleh berhenti pada struktur organisasi, tetapi harus diterjemahkan dalam kerja-kerja politik yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
“Insyaallah dengan semangat pada malam hari ini, Dapil V bisa mendapatkan tambahan kursi dan target untuk masuk ke Senayan bisa dicapai,” ujarnya.
Senada, Wakil Ketua Bidang OKK 2 DPW PPP Jawa Timur Drs. KH. Muhith Efendi meminta seluruh kader melakukan introspeksi terhadap perjalanan partai menjelang Pemilu 2029.
Ia menilai Dapil V memiliki potensi untuk memperoleh lebih dari satu kursi apabila konsolidasi organisasi dilakukan secara serius.
“Dapil V harus mempunyai target minimal dua kursi. Hal ini bisa dicapai apabila seluruh kader PPP benar-benar solid dan turun ke akar rumput,” kata Muhith.
Ia menilai karakteristik masyarakat Surabaya membutuhkan pendekatan politik yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Pola komunikasi politik yang selama ini dilakukan secara konvensional perlu diperkuat dengan strategi digital.
Menurut Muhith, nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi bagian dari identitas PPP perlu dikemas melalui pendekatan komunikasi yang lebih modern.
Terlebih, Surabaya merupakan kota metropolitan dengan karakter masyarakat yang dinamis dan heterogen.
“Persoalan yang menjadi PR bagi PPP, karena ini Surabaya meskipun pinggiran, maka pola-pola Ahlussunnah wal Jamaah akan kita kemas menjadi digitalisasi. Ini yang penting,” ujarnya.
Muhith mengatakan, PPP perlu membangun branding yang sesuai dengan karakter masyarakat di masing-masing wilayah, termasuk menjangkau generasi muda.
Perkembangan media sosial, menurut dia, tidak dapat lagi dipandang sebagai pelengkap, tetapi menjadi salah satu instrumen penting dalam membangun komunikasi politik.
“Kita akan mem-branding PPP ini sesuai dengan kondisi dan situasi masyarakat setempat. Khususnya generasi Z, kita harus paham apa kemauan mereka,” katanya.
Ia menilai pendekatan door to door tetap penting, tetapi tidak cukup untuk menjangkau masyarakat perkotaan dengan karakter komunikasi yang terus berubah.
Karena itu, kader dituntut mampu memanfaatkan media sosial dan berbagai kanal digital untuk memperkenalkan gagasan serta aktivitas partai.
“Bukan hanya mengandalkan door to door, tetapi bagaimana kita menjual sesuatu yang memungkinkan untuk bisa direspons oleh generasi muda dan masyarakat Kota Surabaya,” imbuhnya.
Muhith menegaskan, modernisasi komunikasi politik menjadi salah satu pekerjaan rumah PPP agar partai mampu menyatu dengan perkembangan masyarakat perkotaan.
“Kita harus modernisasikan, supaya PPP bisa menyatu dengan masyarakat dan branding-nya juga harus modern. Ini yang penting, apalagi Dapil V sudah teruji memperoleh satu kursi,” jelasnya.
Ia juga menyebut PPP memiliki modal historis yang cukup kuat. Partai tersebut berdiri pada 1973 dan memiliki keterkaitan sejarah dengan sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama, termasuk KH Idham Chalid yang pernah memimpin PBNU.
Karena itu, menurut Muhith, pemahaman kader terhadap sejarah dan identitas partai perlu diperkuat bersamaan dengan kemampuan membaca perubahan perilaku pemilih.
“PPP sudah marketable atau layak jual. Mayoritas di Dapil V ini juga warga Nahdliyin. Fokusnya adalah generasi muda karena sesuai survei, pemilih terbanyak adalah pemuda, sekitar 60 persen,” pungkasnya.













