Gus Lilur menyoroti kondisi finansial NU dan membandingkannya dengan Muhammadiyah. Ia juga menyinggung kemandirian organisasi dan pengaruh tawaran uang.
NEWSTUJUH.COM, SURABAYA – Pernyataan Kiai HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, seorang tokoh muda, penulis, dan pengusaha asal Situbondo, Jawa Timur, yang aktif di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) kembali menjadi sorotan setelah sebuah potongan video beredar di media sosial. Dalam video tersebut, Gus Lilur membahas kondisi finansial Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus membandingkannya dengan Muhammadiyah.
Video yang menjadi perhatian tersebut viral setelah diunggah melalui akun Instagram @nahdliyinbersatu. Materi serupa juga disebut berasal dari kanal YouTube LP3ES. Video yang beredar memiliki durasi sekitar 1 menit 49 detik.
Dalam potongan dialog tersebut, Gus Lilur menyampaikan pandangannya mengenai kemandirian ekonomi organisasi. Ia menilai NU masih menghadapi tantangan dalam membangun kekuatan finansial yang mandiri dan membandingkan kondisi tersebut dengan Muhammadiyah.
“Secara finansial, NU kalah jauh sama Muhammadiyah. Kalau kita bicara cash, Muhammadiyah punya triliunan. Dan kader-kadernya memasukkan konsep organisasi yang mandiri di hatinya,” ujar Gus Lilur dalam video tersebut dikutip newstujuh.com, Sabtu (19/09/2026)
Baca juga : TGB dan Gus Kautsar Bantah Terlibat, LBH NU Madiun Soroti Polemik Buku Islam ala Prabowo
Gus Lilur kemudian menyinggung persoalan ekonomi yang menurutnya dapat berdampak terhadap independensi organisasi. Ia menyebut keterbatasan finansial berpotensi membuat sebagian struktur atau kader lebih mudah tergoda ketika mendapatkan tawaran bantuan maupun uang.
“Sementara kader NU, melihat uang Rp50 juta saja niat sudah bisa berubah. Nah, kami yang miskin ini merasa sedih. NU hari ini miskin,” katanya.
Menurut Gus Lilur, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kondisi ekonomi organisasi, tetapi juga dapat bersinggungan dengan kepentingan kekuasaan. Ia mengkhawatirkan adanya bantuan atau iming-iming uang yang berpotensi memengaruhi suara di tingkat struktur organisasi.
Gus Lilur kemudian secara khusus menyebut PCNU dan PWNU yang menurut pandangannya masih menghadapi keterbatasan finansial.
“Lantas PCNU-PCNU yang miskin dan perlu duit dan mata duitan itu mereka tawari iming-iming uang,” ujarnya.
Ia selanjutnya membandingkan kondisi tersebut dengan Muhammadiyah. Menurut Gus Lilur, kultur kemandirian ekonomi yang dinilainya lebih kuat di lingkungan Muhammadiyah membuat organisasi tersebut memiliki sikap berbeda ketika menghadapi tawaran uang.
“Sayangnya PCNU kami bukan PC Muhammadiyah. Sayangnya PWNU kami bukan PW Muhammadiyah. Muhammadiyah ditawari uang mereka pasti marah. Kalau kita ditawari uang, kita berlomba datang mengambil uang,” ucap Gus Lilur.
Pernyataan tersebut kemudian memantik perbincangan di media sosial. Sorotan publik terutama tertuju pada perbandingan kondisi finansial NU dan Muhammadiyah serta pernyataan Gus Lilur mengenai kemandirian ekonomi dan potensi pengaruh uang terhadap organisasi.
Di sisi lain, isi potongan video tersebut perlu dipahami berdasarkan konteks dialog secara utuh. Pernyataan mengenai NU yang disebut “miskin dan butuh duit”, kondisi kader, maupun potensi pengaruh uang merupakan pandangan yang disampaikan Gus Lilur dalam dialog, bukan kesimpulan atau penilaian redaksi terhadap seluruh organisasi dan kader NU.
Untuk menjaga keberimbangan pemberitaan, tanggapan dari pihak NU mengenai kondisi finansial organisasi, kemandirian ekonomi, serta pernyataan yang disampaikan Gus Lilur menjadi penting. Dengan demikian, publik dapat memperoleh perspektif yang lebih lengkap dan tidak hanya berdasarkan potongan video yang beredar di media sosial.














Respon (1)