Berita

Kajian Majelis Ar-Rohimin: Menjaga Lisan, Merawat Akhlak dan Hati

8
×

Kajian Majelis Ar-Rohimin: Menjaga Lisan, Merawat Akhlak dan Hati

Sebarkan artikel ini
Majelis Ar-Rohimin
Tampak Habib Musthofa Bin Zein Al-Alydrus (kiri) saat menyampaikan materi didampingi Pembina Majelis Ar-Rohimin, H. Abdul Rohim (kanan).

NEWSTUJUH.COM, SURABAYA – Tidak semua yang diketahui harus dikatakan. Tidak semua yang benar harus disampaikan saat itu juga. Dan tidak semua yang mampu diucapkan akan membawa kebaikan.

Pesan tersebut menjadi salah satu benang merah kajian rutin Majelis Ar-Rohimin, Rabu malam (23/9/2026). Dalam kajian yang membahas kitab Maroqil ‘Ubudiyah, syarah atas Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali, pengasuh Majelis Ar-Rohimin Habib Musthofa bin Zein Al-Alydrus mengajak jemaah kembali melihat satu perkara yang kerap dianggap sepele: lisan.

Bagi sebagian orang, berbicara mungkin hanya aktivitas sehari-hari. Namun dalam perspektif akhlak dan tasawuf, lisan memiliki posisi yang jauh lebih serius. Satu kalimat dapat menjadi jalan kebaikan. Sebaliknya, satu ucapan juga dapat membuka pintu persoalan yang panjang.

Karena itu, kemampuan menahan ucapan bukan sekadar soal pendiam atau banyak bicara. Ia berkaitan dengan kemampuan seseorang mengendalikan diri.

Dalam kajian tersebut, Habib Musthofa mengawali pembahasan dengan sebuah syair yang dinisbatkan kepada Ibrahim al-Ataki:

قَالُوا سُكُوتُكَ حِرْمَانٌ فَقُلْتُ لَهُمْ
مَا قَدَّرَ اللَّهُ يَأْتِينِي بِلَا نَصَبِ
وَلَوْ يَكُونُ كَلَامِي حِينَ أَنْشُرُهُ
مِنَ اللُّجَيْنِ لَكَانَ الصَّمْتُ مِنْ ذَهَبِ

Syair itu membawa pesan sederhana, tetapi memiliki kedalaman makna. Diam tidak selalu berarti kehilangan kesempatan. Apa yang telah ditetapkan Allah bagi seseorang akan sampai kepadanya tanpa harus ditempuh melalui kegaduhan atau perkataan yang berlebihan.

Bahkan ketika sebuah perkataan memiliki nilai yang tinggi, diam pada kondisi tertentu tetap dapat menjadi pilihan yang lebih utama.

“Seandainya perkataanku ketika aku menyampaikannya terbuat dari perak, niscaya diam itu tetap terbuat dari emas,” demikian makna yang terkandung dalam syair tersebut.

Habib Musthofa kemudian menguraikan sejumlah keutamaan diam sebagaimana dibahas dalam khazanah akhlak Islam. Diam disebut mengandung tujuh ribu kebaikan yang terangkum dalam tujuh perkara utama.

Diam merupakan ketenangan tanpa kelelahan. Ia menjadi perhiasan tanpa membutuhkan hiasan. Diam juga merupakan kewibawaan tanpa kekuasaan dan benteng tanpa penjaga.

Keutamaan lainnya berkaitan dengan hubungan seseorang dengan orang lain. Dengan lebih sedikit berbicara, seseorang juga memiliki lebih sedikit kemungkinan melakukan kesalahan yang pada akhirnya menuntut permintaan maaf.

Diam juga memberikan ketenangan bagi para malaikat pencatat amal sekaligus menjadi penutup bagi aib dan kekurangan seseorang.

Dalam konteks inilah muncul ungkapan:

الصَّمْتُ زَيْنٌ لِلْعَالِمِ وَسِتْرٌ لِلْجَاهِلِ

“Diam adalah perhiasan bagi orang berilmu dan penutup bagi orang yang tidak berilmu.”

Ungkapan tersebut menempatkan diam bukan sebagai simbol ketidakmampuan berbicara. Sebaliknya, diam dapat menjadi bentuk pengendalian diri. Orang yang memiliki pengetahuan tidak harus selalu menunjukkan pengetahuannya melalui setiap perkataan.

Ada saatnya ilmu disampaikan. Ada pula saatnya ilmu justru tercermin melalui kemampuan seseorang menahan diri.

Kajian kemudian bergerak pada persoalan yang lebih dalam. Habib Musthofa menyampaikan tiga perkara yang disebut dapat menjadi sebab kerasnya hati seseorang.

Pertama, tertawa tanpa sebab yang pantas. Kedua, makan tanpa rasa lapar. Ketiga, berbicara tanpa adanya kebutuhan.

Tiga perkara tersebut menjadi pengingat bahwa akhlak tidak hanya berbicara mengenai hubungan manusia dengan orang lain. Akhlak juga berkaitan dengan kemampuan seseorang mengendalikan dorongan dalam dirinya.

Termasuk ketika dorongan tersebut muncul dalam bentuk keinginan untuk terus berbicara.

Di tengah kehidupan sosial yang semakin ramai, pesan semacam itu terasa relevan. Seseorang kini tidak hanya memiliki lisan untuk menyampaikan sesuatu. Perkataan juga dapat disebarkan melalui pesan singkat, komentar, unggahan, maupun berbagai ruang komunikasi digital.

Sekali sebuah ucapan disampaikan, jejaknya dapat bergerak jauh melampaui ruang dan waktu ketika kalimat itu pertama kali diucapkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *