BeritaSejarah

Kisah Buya Hamka dan Politik, Sahabat yang Pernah Dipenjarakan Soekarno

15
×

Kisah Buya Hamka dan Politik, Sahabat yang Pernah Dipenjarakan Soekarno

Sebarkan artikel ini
Kisah Buya Hamka
Kisah Buya Hamka, kedekatan dengan Presiden Soekarno hingga dipenjara (Foto: Credit, Newstujuh.com)

Kisah Buya Hamka, ulama yang pernah dipenjarakan pada masa Presiden Soekarno. Dari balik jeruji besi, ia menyelesaikan Tafsir Al-Azhar dan menunjukkan keteladanan dengan mengimami salat jenazah Bung Karno.

NEWSTUJUH.COM, MADIUN – Kisah hidup Buya Hamka menjadi salah satu cerita paling mengharukan dalam perjalanan sejarah Indonesia. Ulama besar, sastrawan, sekaligus tokoh bangsa ini pernah mengalami masa-masa sulit ketika harus mendekam di balik jeruji besi atas perintah pemerintahan Presiden Soekarno. Namun, pengalaman pahit tersebut justru melahirkan sebuah mahakarya yang hingga kini menjadi rujukan umat Islam, yakni Tafsir Al-Azhar.

Hubungan Buya Hamka dengan Soekarno menyimpan cerita panjang. Keduanya merupakan tokoh besar bangsa dengan perjalanan kehidupan yang berbeda. Di satu sisi, Hamka dikenal sebagai ulama dan pemikir Islam, sementara Soekarno merupakan Presiden pertama Republik Indonesia.

Pada 27 Januari 1964, Buya Hamka ditangkap di kediamannya. Ia dituduh terlibat dalam rencana makar, termasuk dugaan upaya pembunuhan terhadap Presiden Soekarno, bersekongkol dengan Malaysia dengan menerima bantuan dari Perdana Menteri Tunku Abdul Rahman, serta berupaya menghidupkan kembali Partai Masyumi yang telah dibubarkan.

Hamka kemudian menjalani penahanan selama kurang lebih dua tahun empat bulan tanpa melalui persidangan. Masa-masa tersebut menjadi ujian berat bagi kehidupan pribadinya.

Ketika berada dalam tahanan di Sukabumi, Hamka sempat mengalami tekanan batin yang mendalam. Bahkan, ia pernah berada dalam kondisi putus asa. Namun, melalui perenungan dan kekuatan iman, ia berhasil melewati masa sulit tersebut.

Alih-alih larut dalam kesedihan dan menyimpan dendam, Hamka memilih mengisi hari-harinya dengan menulis dan mendekatkan diri kepada Allah.

Dari balik jeruji besi itulah ia merampungkan karya monumental Tafsir Al-Azhar, sebuah tafsir Al-Qur’an lengkap 30 juz yang kemudian dikenal luas dan menjadi salah satu warisan intelektual Islam di Indonesia.

Hamka memandang masa penahanan tersebut sebagai kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan besar yang mungkin sulit dituntaskan ketika dirinya masih disibukkan dengan aktivitas dakwah, organisasi, dan politik.

Pada 1966, setelah perubahan situasi politik nasional, Buya Hamka akhirnya dibebaskan. Namun, cerita antara dirinya dan Soekarno belum berakhir.

Enam tahun kemudian, tepatnya 16 Juni 1970, Soekarno meninggal dunia. Sebelum wafat, Bung Karno dikabarkan pernah menyampaikan pesan agar Buya Hamka bersedia menjadi imam salat jenazahnya.

Permintaan tersebut menjadi salah satu bagian paling menyentuh dalam kisah keduanya. Hamka yang pernah merasakan pahitnya penjara pada masa pemerintahan Soekarno tidak menunjukkan dendam. Ia justru memenuhi pesan tersebut dengan mengimami salat jenazah mantan presiden yang pernah memenjarakannya.

Peristiwa ini menjadi gambaran kebesaran hati seorang Buya Hamka. Baginya, persoalan politik dan pengalaman pahit masa lalu tidak harus menjadi alasan untuk memelihara kebencian.

Kisah Buya Hamka mengajarkan bahwa ujian kehidupan tidak selalu harus dibalas dengan kemarahan. Dari balik penjara, ia melahirkan karya besar. Dari pengalaman pahit, ia menunjukkan keteguhan iman. Dan dari hubungan yang pernah diwarnai konflik, ia meninggalkan teladan tentang keikhlasan dan memaafkan.

Buya Hamka pernah kehilangan kebebasannya karena Soekarno, tetapi ketika Soekarno meninggal dunia, ia tidak kehilangan kebesaran hatinya untuk memberikan penghormatan terakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *