Karena itu, menjaga lisan tidak semata-mata berarti mengurangi jumlah kata. Yang lebih penting adalah memastikan setiap kata memiliki alasan untuk disampaikan.
Benar belum tentu harus segera dikatakan
Dalam ajaran akhlak, persoalan lisan bukan hanya mengenai benar atau salahnya sebuah ucapan. Ada dimensi lain yang perlu diperhatikan: manfaat, kebutuhan, waktu, dan dampaknya.
Sebuah perkataan bisa saja benar, tetapi jika disampaikan pada waktu yang tidak tepat, dapat melukai orang lain. Sebuah informasi mungkin diketahui seseorang, tetapi menyebarkannya tanpa kebutuhan justru dapat membuka aib.
Dari sini, kehati-hatian menjadi bagian penting dalam menjaga lisan.
Sebelum berbicara, seseorang dapat bertanya kepada dirinya sendiri: apakah yang akan saya katakan benar? Apakah ucapan ini membawa manfaat? Apakah memang diperlukan? Dan apakah perkataan tersebut akan mendatangkan kebaikan?
Jika jawabannya tidak, menahan diri menjadi pilihan yang lebih aman.
Bukan berarti setiap orang harus diam sepanjang waktu. Islam juga memberikan ruang yang luas bagi perkataan yang baik, nasihat, ilmu, dakwah, dan komunikasi yang membawa kemaslahatan.
Persoalannya adalah kemampuan membedakan kapan harus berbicara dan kapan harus berhenti.
Dalam kehidupan sehari-hari, diam kerap disalahartikan sebagai tanda kelemahan, ketidakpedulian, atau ketidakmampuan merespons. Padahal, dalam perspektif akhlak Islam, diam pada tempatnya dapat menjadi bentuk kebijaksanaan.
Seseorang yang mampu menahan diri dari ghibah, fitnah, celaan, membuka aib, dan pembicaraan yang tidak bermanfaat sedang membangun benteng bagi dirinya sendiri.
Sebab, persoalan besar tidak selalu bermula dari tindakan besar. Tidak jarang, masalah justru berawal dari satu kalimat yang terucap tanpa pertimbangan.
Karena itu, menjaga lisan pada akhirnya berkaitan erat dengan menjaga hati.
Semakin seseorang terbiasa menimbang sebelum berbicara, semakin besar peluang dirinya terhindar dari perkataan yang sia-sia maupun menyakiti orang lain.
Pesan itulah yang terus ditekankan dalam pembahasan kitab Maroqil ‘Ubudiyah malam itu. Jemaah diajak tidak berhenti pada pemahaman teks, tetapi membawa pesan tersebut ke dalam perilaku sehari-hari.
Di tengah derasnya arus komunikasi, kemampuan untuk berbicara memang penting. Namun kemampuan untuk tidak berbicara ketika sebuah ucapan tidak diperlukan juga merupakan bentuk kedewasaan.
Majelis Ar-Rohimin melalui kajian rutin tersebut terus menghadirkan pembelajaran keagamaan yang bertumpu pada nilai-nilai tasawuf dan akhlak. Pembahasan kitab tidak hanya diarahkan pada penambahan pengetahuan, tetapi juga pada upaya membentuk kebiasaan untuk lebih mawas diri dalam menjalani kehidupan.
Dan pada perkara lisan, ukuran kematangan seseorang terkadang bukan pada seberapa banyak ia mampu berkata-kata, melainkan pada seberapa bijak ia menentukan kata mana yang layak keluar dari mulutnya.













