Demo ricuh di Albania. Kantor Mahkamah Agung dan sejumlah lokasi bank dilaporkan terbakar saat bentrokan.
NEWSTUJUH.COM, TIRANA – Aksi demonstrasi besar-besaran di Tirana, ibu kota Albania, berujung ricuh. Ribuan demonstran yang dipimpin mahasiswa turun ke jalan untuk memprotes mahalnya biaya pendidikan, buruknya kondisi universitas, serta terbatasnya lapangan kerja. Aksi tersebut juga berkembang menjadi protes terhadap pemerintahan Perdana Menteri Edi Rama.
Mengutip laporan Viory, massa aksi melemparkan batu ke arah aparat kepolisian, memblokir jalan, serta meneriakkan berbagai slogan sambil membawa bendera Albania. Situasi semakin memanas ketika sejumlah demonstran melemparkan bom molotov ke sebuah gedung hingga asap mengepul dari jendela.
Polisi antihuru-hara merespons dengan mengerahkan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan massa. Namun, bentrokan terus meluas, terutama di sekitar gedung Kementerian Pendidikan.
Pada malam hari, sejumlah demonstran dilaporkan merusak barikade, menggulingkan tempat sampah, serta melemparkan batu bata dan bom molotov. Kebakaran juga dilaporkan terjadi di gedung kementerian dan sejumlah lokasi perbankan, termasuk salah satu cabang Raiffeisen Bank.
Kantor Mahkamah Agung Albania dilaporkan terbakar pada Minggu (18/10/2026), ketika bentrokan antara demonstran dan polisi masih berlangsung. Selain itu, pintu masuk Bank Albania juga dilaporkan terbakar sehingga petugas pemadam kebakaran harus dikerahkan ke lokasi.
Aparat kepolisian disebut menggunakan peluru karet terhadap demonstran untuk pertama kalinya sejak kerusuhan tersebut pecah. Laporan mengenai bentrokan itu juga menyebutkan adanya puluhan orang yang ditangkap serta korban luka dari kedua belah pihak.
Aksi yang awalnya berfokus pada persoalan pendidikan kini berkembang menjadi gerakan antipemerintah yang lebih luas. Para demonstran mempersoalkan kenaikan biaya kuliah, kondisi universitas yang dinilai buruk, serta terbatasnya kesempatan kerja bagi generasi muda.
Massa juga bergabung dalam gerakan yang disebut “Revolusi Flamingo”. Gerakan tersebut menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama di tengah tuduhan korupsi dan persoalan ketimpangan sosial.
Sementara itu, sejumlah penyelenggara aksi dari kalangan mahasiswa mengumumkan boikot perkuliahan di berbagai universitas sebagai bentuk tekanan terhadap pemerintah.
Meluasnya demonstrasi memperlihatka1.€…n bahwa persoalan pendidikan dan kesempatan kerja telah menjadi bagian dari ketidakpuasan masyarakat yang lebih besar terhadap pemerintahan Albania.
Sumber: Viory













