Pendidikan

Kuliah Sambil Bekerja, Kisah Mahasiswa Unusa Menembus Dunia Profesional

28
×

Kuliah Sambil Bekerja, Kisah Mahasiswa Unusa Menembus Dunia Profesional

Sebarkan artikel ini
UNUSA

Kuliah dan pekerjaan membuat Anis harus membagi waktu dengan cermat. Selain menjalankan tugas di puskesmas dan mengikuti perkuliahan, ia juga tetap menjalani kegiatan praktik.

Salah satu pengalaman yang cukup berat adalah ketika Anis mengikuti PKL di RS Bhayangkara selama satu bulan. Setelah menyelesaikan pekerjaan di puskesmas sekitar pukul 14.30, ia harus langsung menuju rumah sakit untuk menjalani PKL.

“Capek pasti, karena setelah pulang kerja jam setengah tiga, saya langsung lanjut PKL di rumah sakit. Itu berlangsung sekitar satu bulan, jadi memang harus pintar-pintar membagi waktu antara kerja dan kuliah,” ujar Anis.

Pengalaman bekerja ternyata juga berkaitan dengan proses penelitian yang dijalani Anis. Ia dapat menghubungkan pembelajaran di bangku kuliah dengan kondisi yang dihadapi di tempat kerja.

Saat melakukan pengambilan data penelitian di tempat kerja, ia tetap mengikuti prosedur dan perizinan yang berlaku.

“Untungnya kuliah di UNUSA banyak yang dilakukan secara online, jadi lebih membantu saya dalam membagi waktu. Kalau ada praktik tetap harus datang langsung, tetapi pekerjaan di puskesmas juga bisa saya sesuaikan, termasuk ketika mengambil data untuk penelitian,” jelas perempuan kelahiran 2001 itu.

Bagi Anis, melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 juga memperluas pemahamannya mengenai bidang gizi. Ia merasa memperoleh perspektif baru yang dapat diterapkan dalam pekerjaan.

“Setelah kuliah S1 di UNUSA, saya merasa mendapatkan perspektif baru tentang gizi. Jadi bukan hanya ilmu yang saya dapatkan saat D3, tetapi ada pemahaman baru yang kemudian bisa saya terapkan juga di tempat kerja,” tuturnya.

Dalam wisuda ke-22 tersebut, Unusa mewisuda 1.038 mahasiswa. Sebanyak 14 di antaranya merupakan wisudawan non-Muslim.

Dari jumlah tersebut, 11 orang atau 78,6 persen meraih predikat lulus dengan sangat memuaskan.

Meylani Fernanda Bessie menjadi salah satu wisudawan non-Muslim tersebut. Berasal dari Kupang, Meylani merupakan anak tunggal sekaligus lulusan pertama di keluarganya.

Ia memilih Unusa karena tersedia kelas Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), sehingga dapat melanjutkan pendidikan sambil tetap bekerja. Selama kuliah, ia juga merasakan dukungan dan toleransi dari para dosen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *