BeritaPolitik

Gibran Minta Maaf kepada Korban MBG, Pengamat: Ini yang Beda dari Prabowo

436
×

Gibran Minta Maaf kepada Korban MBG, Pengamat: Ini yang Beda dari Prabowo

Sebarkan artikel ini
Gibran minta maaf korban MBG
Wakil Presiden Gibran saat mengunjungi korban keracunan MBG di Karo Sumatra Utara (Foto: Newstujuh.com)

NEWSTUJUH.COM, KARO –  Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menemui secara langsung anak-anak yang menjalani perawatan setelah diduga mengalami keracunan makanan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Gibran menyampaikan permintaan maaf tersebut saat mengunjungi Rumah Sakit (RS) Efarina Etaham dan Rumah Sakit Umum Amanda Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, Jumat, 11 September 2026. Dalam kunjungan itu, Gibran menemui pasien dan keluarga untuk mendengarkan secara langsung keluhan yang mereka sampaikan sekaligus memastikan kebutuhan penanganan medis terpenuhi.

Gibran juga memastikan pemerintah akan membantu memenuhi kebutuhan pasien selama menjalani perawatan, termasuk obat-obatan dan penanganan medis yang diperlukan.

Apabila kondisi pasien membutuhkan perawatan lebih lanjut, pemerintah membuka opsi rujukan ke rumah sakit lain, termasuk di Medan maupun Jakarta. Namun, proses rujukan tersebut akan dilakukan dengan persetujuan dari orang tua pasien.

Baca juga : 

43 SPPG di Jombang Dihentikan Sementara, Belum Kantongi SLHS

Kehadiran Gibran langsung di tengah korban dugaan keracunan MBG mendapat perhatian dari pengamat politik Hendri. Ia menilai terdapat perbedaan dalam cara Gibran merespons persoalan yang berkaitan dengan program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Hendri, terdapat dua hal yang menjadi pembeda dalam respons Gibran. Pertama, Gibran datang langsung menemui korban dan keluarga, bukan hanya menyampaikan pernyataan dari balik meja. Kedua, Gibran menyampaikan permintaan maaf atas nama pemerintah sekaligus memastikan kebutuhan pasien mendapatkan tindak lanjut.

“Gibran minta maaf langsung ke korban keracunan MBG, itu aksi politik strategis, belajar dia dari bapaknya,” tulis Hendri melalui akun X pribadinya, dikutip Newstujuh, Minggu (13/9/2026).

Hendri menilai langkah tersebut memiliki makna politik karena memperlihatkan empati sekaligus tanggung jawab pemerintah ketika menghadapi persoalan yang muncul dalam pelaksanaan program MBG

“2 hal ini yang gak dilakukan Prabowo,” imbuh Hendri.

Kasus dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis kembali menjadi perhatian publik. Peristiwa tersebut memunculkan sorotan terhadap pelaksanaan program, terutama menyangkut keamanan pangan dan mekanisme pengawasan.

Sejumlah aspek menjadi perhatian, mulai dari kualitas bahan makanan, proses pengolahan, kebersihan dapur penyedia, distribusi makanan kepada penerima manfaat, hingga sistem penanganan apabila terjadi persoalan kesehatan setelah makanan dikonsumsi.

Program MBG merupakan salah satu program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Karena itu, setiap kejadian yang berkaitan dengan keamanan makanan menjadi bagian penting dalam evaluasi pelaksanaannya.

Gibran menyampaikan bahwa program MBG akan terus dievaluasi dan disempurnakan. Ia juga menekankan pentingnya masukan dari masyarakat agar pelaksanaan program tersebut dapat berjalan lebih baik.

Hendri juga mengaitkan langkah Gibran dengan pengalaman politik ayahnya, Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi.

Menurut Hendri, Jokowi selama ini dikenal kerap melakukan kunjungan langsung ke tengah masyarakat ketika menghadapi persoalan publik. Pola tersebut dinilai turut terlihat dalam respons Gibran saat menemui korban dugaan keracunan MBG di Kabupaten Karo.

Dengan datang langsung, menyampaikan permintaan maaf, serta memastikan kebutuhan pasien ditangani, Gibran dinilai menunjukkan respons yang mengedepankan empati dan kehadiran pemerintah.

Namun, penilaian mengenai adanya perbedaan respons antara Gibran dan Prabowo tersebut merupakan pandangan Hendri. Pernyataan tersebut menjadi pendapat pengamat politik dan bukan kesimpulan independen redaksi.

Kasus dugaan keracunan MBG menjadi momentum untuk memperkuat evaluasi terhadap pelaksanaan program, khususnya terkait standar keamanan pangan, pengawasan penyedia makanan, serta prosedur penanganan terhadap penerima manfaat yang mengalami gangguan kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *