Teknologi

Ahli ITS: Pahami Status Gunung Api dan Percaya Sumber Resmi untuk Mitigasi Erupsi

24
×

Ahli ITS: Pahami Status Gunung Api dan Percaya Sumber Resmi untuk Mitigasi Erupsi

Sebarkan artikel ini
Ahli ITS
Ahli Vulkanologi ITS Dr M Haris Miftakhul Fajar MEng ajak masyarakat untuk mengenal aplikasi Magma Indonesia yang secara aktif memantau aktivitas gunung api di Indonesia. (NewsTujuh.com)

NEWSTUJUH.COM, SURABAYA — Di tengah tingginya aktivitas vulkanik yang terjadi belakangan ini, pemahaman masyarakat terhadap tanda bahaya dan langkah pencegahan menjadi kunci utama keselamatan. Ahli Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menegaskan bahwa mitigasi bencana harus berbasis data pemantauan resmi, bukan kabar yang beredar tanpa dasar ilmiah.

Dr. M. Haris Miftakhul Fajar, M.Eng., pengajar di Departemen Teknik Geofisika ITS, menjelaskan bahwa pemerintah telah menetapkan empat tingkatan status gunung api yang menjadi pedoman utama: Normal, Waspada, Siaga, dan Awas. Keempat tingkatan ini bukan sekadar peringatan bahwa letusan akan terjadi, melainkan panduan tindakan bagi masyarakat maupun pemerintah dalam menentukan langkah pengamanan yang tepat.

“Status gunung api menjadi acuan mitigasi, bukan sekadar penanda akan terjadi letusan,” ujar Haris.

Pemerintah melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menyediakan akses informasi terpadu lewat platform MAGMA Indonesia. Di sana, data aktivitas seluruh gunung api di Indonesia diperbarui secara berkala dan dapat diakses siapa saja.

Meski begitu, masih banyak informasi keliru yang bertebaran di media sosial. Haris mengingatkan, hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi hari dan jam pasti terjadinya erupsi. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk memilah informasi dan tidak mudah percaya pada ramalan yang tidak bersumber dari lembaga berwenang.

“Saat ini sering beredar ramalan tidak berdasar di media sosial, padahal secara ilmiah tidak ada teknologi yang mampu memprediksi hari dan jam pasti terjadinya erupsi,” tegasnya.

Ketika status gunung api memasuki tahap Waspada maupun Siaga, masyarakat perlu mematuhi pembatasan aktivitas di kawasan rawan. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi risiko terpapar material vulkanik yang bisa berbahaya. Selain bahaya lontaran batu dan aliran lahar, abu vulkanik juga memiliki dampak luas yang sering luput dari perhatian.

Abu vulkanik berukuran mikro bersifat tajam, dapat mengganggu pernapasan manusia, menggores permukaan kaca, serta mengurangi jarak pandang hingga membahayakan penerbangan. Ancaman ini bukan sekadar teori — pada 24 Juni 1982, pesawat British Airways Penerbangan 9 kehilangan tenaga di keempat mesin setelah menembus awan abu Gunung Galunggung di ketinggian 37.000 kaki. Pesawat sempat melayang tanpa tenaga sebelum berhasil mendarat darurat di Halim Perdanakusuma. Peristiwa inilah yang kemudian melahirkan pembentukan pusat peringatan abu vulkanik dunia, Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC).

Gunung Krakatau
Gambaran erupsi yang terjadi pada Gunung Anak Krakatau (Foto: Pixabay)

Karena itu, penanganan bencana gunung api memerlukan sinergi lintas sektor. PVMBG bertugas memantau aktivitas, BMKG menganalisis arah angin dan cuaca, sedangkan Kementerian Perhubungan mengatur jalur penerbangan demi menjamin keselamatan.

Untuk jangka panjang, Haris menekankan pentingnya memperkuat edukasi kebencanaan sejak dini, sebelum aktivitas gunung meningkat. Pemahaman yang benar akan membangun budaya mitigasi tanpa menimbulkan kepanikan berlebih. Hal ini juga perlu didukung dengan pemetaan risiko, penyiapan jalur evakuasi, dan penguatan sistem komunikasi saat bencana terjadi.

“Budaya mitigasi harus dibangun melalui pemahaman terhadap proses alam dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Haris.

Baca Juga : Rencana Rilis PlayStation 6 Berpotensi Terungkap, Berkat Microsoft

Dengan demikian, menghadapi ancaman erupsi bukan berarti harus takut berlebihan. Cukup selalu waspada, patuh pada arahan resmi, dan percaya pada informasi yang bersumber dari lembaga berwenang.

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *