BeritaInternasional

Pencak Silat Madiun Mendunia

34
×

Pencak Silat Madiun Mendunia

Sebarkan artikel ini
Pencak Silat Madiun
Enam pesilat dan seniman Madiun tampil di Festival Pencak Silat Internasional 2026 di Belanda (Foto: Dok PSHW).

Pencak silat Madiun dan seniman Madiun tampil di Festival Pencak Silat Internasional 2026 di Belanda membawa budaya Mataraman ke panggung dunia.

NEWSTUJUH.COM, BELANDA –  Pencak silat asal Madiun kembali mendapat kesempatan tampil di panggung internasional. Enam pesilat dan seniman dari Madiun menjadi bagian dari delegasi Indonesia dalam 1st International Pencak Silat Cultural Heritage Festival 2026 yang digelar pada 8–12 Oktober 2026 di De Bron, Amersfoort, Belanda.

Keikutsertaan tersebut berlangsung atas undangan Nederlandse Pencak Silat Federatie (NPSF). Delegasi Madiun membawa misi memperkenalkan seni pencak silat sekaligus nilai budaya yang berkembang di wilayah Mataraman kepada masyarakat internasional.

Delegasi tersebut berasal dari dua sanggar yang berada di bawah pembinaan Perguruan Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda (PSHWTM), yakni Sanggar Satria Krida Manggala dari Kabupaten Madiun dan Sanggar Seni Budaya Sugeng Santoso dari Kota Madiun.

Meski berasal dari dua wilayah berbeda, kedua sanggar membawa akar tradisi dan pakem yang sama. Kehadiran mereka sekaligus memperkenalkan Madiun sebagai daerah yang memiliki tradisi pencak silat kuat dan dikenal dengan sebutan Kampung Pesilat.

Baca juga : 

PSHT Pusat Madiun Silaturahmi Kunjungi Kediaman Jokowi

1.750 Pesilat Ramaikan Piala Panglima TNI 2026 di Solo

Partisipasi delegasi Madiun di Belanda mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Dana Indonesiaraya. Dukungan lainnya datang dari MIND ID serta Pemerintah Kabupaten Madiun.

Dalam festival tersebut, delegasi Madiun menyajikan pertunjukan bertajuk “The Spirit of Mataraman: Pencak Silat from Madiun.” Pertunjukan itu mengangkat karakter pencak silat Mataraman yang memadukan ketegasan gerak dengan nilai kesantunan, persaudaraan, serta filosofi kehidupan yang berkembang dalam tradisi pencak silat Madiun.

Bagi PSHWTM, kehadiran di Belanda menjadi bagian dari perjalanan dalam memperkenalkan pencak silat Madiun ke dunia internasional. Sebelumnya, PSHWTM juga telah tampil dalam kegiatan internasional di Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina, pada 2024.

Festival di Belanda juga mempertemukan sejumlah aliran pencak silat dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain Harimau Singgalang dari Sumatera Barat dan Panglipur dari Jawa Barat. Pertemuan tersebut menjadi gambaran mengenai keragaman tradisi pencak silat yang berkembang di berbagai wilayah Nusantara.

Ketua Sanggar Satria Krida Manggala, Bayu Supriyanto, mengatakan kesempatan tampil di Belanda menjadi pengalaman penting bagi para anggota sanggar.

“Kami ini anak-anak desa dari Caruban. Dulu, bisa tampil di panggung kabupaten saja sudah kami syukuri. Sekarang, membawa nama PSHWTM dan Madiun ke Belanda adalah mimpi yang jadi nyata berkat latihan tekun dan doa orang tua,” ujarnya.

Ketua Sanggar Seni Budaya Sugeng Santoso, Iwan Budi Prasetiya, juga menilai keberangkatan bersama antara sanggar dari Kota dan Kabupaten Madiun memiliki makna tersendiri.

“Ini adalah bentuk lanjutan syiar PSHWTM di Benua Biru. Keberangkatan bersama dari Kota dan Kabupaten Madiun sebagai satu delegasi membuat langkah ini terasa sangat bermakna,” katanya.

Dukungan terhadap keikutsertaan delegasi turut disampaikan Bupati Madiun Hari Wuryanto. Menurutnya, penampilan delegasi di Eropa menjadi kesempatan untuk memperkenalkan identitas Madiun melalui seni dan budaya.

“Ini kebanggaan luar biasa. Saat wakil kami tampil di Eropa, sebutan Kabupaten Madiun sebagai Kampung Pesilat terbukti bukan sekadar slogan, melainkan identitas yang benar-benar hidup dan mendunia,” ujarnya.

President NPSF, Olivier Blancquaert, menjelaskan bahwa kehadiran praktisi pencak silat dari Indonesia menjadi bagian penting dari festival tersebut.

“Kali ini kami membalik keadaan. Jika biasanya pesilat Eropa yang datang ke Indonesia, kini kami mengundang guru-guru dari Indonesia untuk mengisi akhir pekan istimewa di Belanda dengan lokakarya dan peragaan autentik,” jelasnya.

Ketua Koordinator Delegasi Indonesia dari Naine Visual Productions, Joened Agung Sumarwan, menekankan bahwa keberagaman aliran merupakan bagian penting dari kekayaan pencak silat Indonesia.

“Tugas kami adalah memastikan Indonesia hadir secara utuh. Perbedaan aliran dari Sumatera Barat, Jawa Barat, dan Madiun justru menunjukkan betapa kayanya pencak silat Indonesia karena tumbuh dari banyak akar,” katanya.

Selain pertunjukan, rangkaian festival juga mencakup forum diskusi mengenai kemitraan strategis, penandatanganan nota kesepahaman kerja sama kebudayaan, serta kunjungan kehormatan ke KBRI di Den Haag.

Kehadiran delegasi Indonesia menunjukkan bahwa pencak silat dapat menjadi sarana memperkenalkan sejarah, filosofi, nilai, dan keragaman budaya Nusantara kepada masyarakat internasional.

Bagi PSHWTM, pencak silat tidak hanya berkaitan dengan kemampuan bela diri. Tradisi tersebut juga menjadi bagian dari pembentukan karakter, pengendalian diri, olah pikir, persaudaraan, dan nilai spiritual.

Filosofi adiluhung dan edipeni, yang mencerminkan keluhuran nilai serta keindahan dalam perwujudannya, menjadi salah satu pesan yang dibawa delegasi Madiun ke Belanda.

Dari Madiun, tradisi pencak silat kembali diperkenalkan ke panggung internasional sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *