Pendidikan

Menuju Khadijah 2035, Yayasan Khadijah Perkuat Konsolidasi dan Jati Diri Sekolah

34
×

Menuju Khadijah 2035, Yayasan Khadijah Perkuat Konsolidasi dan Jati Diri Sekolah

Sebarkan artikel ini
Yayasan Khadijah
Peserta Retret Yayasan Khadijah.

Ia mengatakan hasil evaluasi tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan langkah berikutnya. Hal-hal yang telah memberikan hasil positif perlu ditingkatkan, sementara kekurangan harus diperbaiki.

“Melihat ulang apa-apa yang telah kita lakukan dan kemudian ketika ada kemajuan yang positif maka kita harus tingkatkan, dan yang negatif akan kita perbaiki,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA., turut berbagi pengalaman mengenai proses membangun lembaga pendidikan dari tahap awal hingga berkembang menjadi lembaga pendidikan yang mampu bersaing di tingkat internasional.

Kiai Asep mendorong Yayasan Khadijah memiliki cita-cita besar dalam pengembangan lembaga. Ia berharap Khadijah dapat menjadi salah satu lembaga pendidikan terbaik, setidaknya di Jawa Timur.

Yayasan Khadijah
Ketua Umum Yayasan Khadijah Surabaya, Dra. Hj. Masruroh Wachid, MPd., saat sambutan.

Menurut dia, cita-cita tersebut harus terlebih dahulu tumbuh di dalam diri setiap orang yang berada di lingkungan yayasan. Cita-cita kemudian harus disertai tekad dan keyakinan untuk mewujudkannya.

“Saya berharap Yayasan Khadijah menjadi lembaga pendidikan terbaik minimal di Jawa Timur. Yang pertama dilakukan adalah bahwa setiap yang berada di lingkungan Khadijah harus mempunyai hal yang paling pokok, adalah cita-cita dan tekad,” kata Kiai Asep.

Ia menilai keyakinan terhadap tujuan yang hendak dicapai akan berpengaruh terhadap semangat seluruh unsur lembaga dalam menjalankan tugas.

“Saya menganalisa bahwa Yayasan Khadijah sebagai kelanjutan daripada lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan. Oleh karena itu semua aktivitas yang ada di dalamnya harus memunculkan semangat ini dan ditanamkan,” tuturnya.

Kiai Asep kemudian mencontohkan bagaimana semangat dan motivasi ditanamkan dalam tradisi pendidikan Nahdlatul Wathan. Salah satunya melalui kebiasaan membaca syair Ya Lal Wathan sebelum memulai pembelajaran.

Menurut dia, kebiasaan tersebut menjadi salah satu sarana untuk membangun semangat dan kecintaan terhadap tanah air. Namun, ia menegaskan bahwa motivasi untuk mengembangkan lembaga pendidikan tidak hanya dapat dibangun melalui satu cara.

“Syair Ya Lal Wathan bukan satu-satunya cara untuk memotivasi diri, namun masih banyak motivasi-motivasi lain yang bisa berdampak positif bagi perkembangan Yayasan Khadijah ke depan,” katanya.